Generasi kreatif Indonesia, gaya hidup era informasi yang cerdas, efesien dan penuh semangat. Membangun kekuatan bersama untuk hari esok yang cemerlang.
Sukses dengan aplikasi Androidnya, Google kini meneruskan ekspansi terhadap layanannya. Jika kemarin Google sempat membuat layanan Google+, kini Google melakukan ekspansi pada pembayaran online melalui aplikasi Google Wallet. Dalam pengaplikasiannya, raksasa internet ini menggandeng MasterCard, Citigroup dan Sprint untuk meluncurkan sistem pembayaran berbasis ponsel. Aplikasi inilah yang disebut Google Wallet, yang memungkinkan pembeli menggunakan ponselnya sebagai media pembayaran, hanya dengan men-scan ponsel sebagai pengganti kartu kredit. Canggih bukan ?
Namun dibalik kecanggihnya, aplikasi ini tampaknya masih mengalami beberapa kendala. Google Wallet saat ini hanya dapat digunakan di Amerika. Itupun diperkirakan masih menemui beberapa kendala, khususnya masih terbatasnya jumlah partner yang kompatibel dengan layanan Google Wallet. Saat ini, baru Mastercard yang secara resmi bisa menggunakan layanan Google Wallet.
Ponsel yang kompatibel dengan Google Wallet hanyalah Nexus S 4G. Ponsel itu pun baru tersedia di Amerika Serikat. Agar sistem pembayaran itu bisa digunakan, memang membutuhkan chip NFC (Near Field Communication), yang sudah ada di Nexus S. Namun Google berjanji akan menghadirkan juga layanan ini di ponsel Android lainnya yang tidak menggunakan NFC.
Menurut para pengamat dunia IT, peluncuran apllikasi ini adalah sebagai strategi Google sebelum merilis ponsel Android terbarunya, Nexus Prime, yang rencananya akan diluncurkan bulan depan. Tentunya ponsel ini telah didukung dengan NFC, dan tentu saja bisa mengaplikasikan layanan Google Wallet.
Jika layanan ini berkembang, tidak diragukan lagi bahwa hal ini akan mengubah cara konsumen berbelanja online dan offline, hal ini akan berimbas ke seluruh dunia termasuk Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat se-Asia Tenggara. Walaupun penetrasi kartu kredit di indonesia termasuk rendah, Google Wallet masih bisa berimbas pada pertumbuhan kartu kredit di Indonesia, bagaimanapun caranya.
Lalu mampukah Google Wallet membantu meningkatkan aktivitas ecommerce di Indonesia ?
Dari paparan diatas ada dua point penting yang wajib dimiliki jika ingin menggunakan wajib pertama adalah smartphone android dan yang kedua adalah kartu kredit.
Indonesia merupakan pasar mobile yang sangat besar. Di kota-kota besar di Indonesia, ponsel merupakan alat komunikasi yang paling personal. Hal inilah yang membuat Indonesia sebagai salah satu dari negara dengan pasar mobile/internet yang luar biasa besar, dan membuat negara-negara modern jadi penasaran. Suatu hal yang nyaris tidak mungkin terjadi bila bukan karena tingginya adopsi Facebook dan Twitter.
Namun bagaimana dengan kartu kredit ?
Seperti yang kita semua ketahui, di Indonesia penetrasi kartu kredit masih sangat rendah. Inilah mata rantai yang hilang bagi Google Wallet untuk bisa sukses di Indonesia, meskipun pihak perbankan sudah berusaha keras untuk menjaring pengguna kartu kredit baru. Ketakutan akan pemakaian yang berlebihan adalah alasan terbesar bari orang Indonesia dan hal ini membuat mereka menghindari memakai kartu kredit dan lebih memilih kartu debit.
Belum banyak orang memiliki kartu kredit, itulah yang menjadi kendala perkembangan aplikasi ini di Indonesia saat ini. Lalu bagaimana 3-5 tahun kedepan ? kita tunggu saja bagaimana perkembangan aplikasi ini di negara-negara maju.
Semoga bermanfaat.
KOMPAS.com - Hingga kini, kualitas foto yang dihasilkan kamera dengan platform Android cenderung datar dan biasa bila dibandingkan dengan kamera iPhone yang digarap dengan serius di bagian kameranya. [selengkapnya]
Jakarta - Perdamaian korban pencurian pulsa, Moch Feri Kuntoro, dengan perusahaan content provider (CP) PT Colibri beberapa bulan lalu, ternyata masih menyisakan sedikit 'hutang'. Feri ternyata tidak melaporkannya ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban [selengkapnya]
Jakarta - Mencari segala informasi memang sangat dimudahkan dengan kehadiran Wikipedia, namun Anda sebaiknya tidak 'menelan bulat-bulat' informasi yang dimunculkan. Pasalnya enam dari sepuluh artikel di Wikipedia ternyata tidak akurat. [selengkapnya]
KOMPAS.com - Kinect, kontroler berbasis gerak dan suara dari Microsoft, yang selama ini hanya ada untuk konsol game Xbox 360 dan PC Windows, dikabarkan akan diadopsi pada perangkat berbasis Windows Phone 8 (Apollo).
[selengkapnya]
J2ME adalah bagian dari Java 2 Standard Edition (J2SE).Membantu Anda dalam membuat Game yang sederhana dan mudah dipahami dengan contoh-contoh yang ada.
CD Tutorial ini, kita akan belajar mengenal AJaX mulai dari konsep AJaX, penggunaan AJaX dengan Teknologi WEB lainnya seperti PHP dan juga pengembangan dari AJaX dalam beberapa contoh Project yang telah disediakan.